SERRUM

 

Serrum didirikan oleh MG Pringgotono, Arif Kurniawan, Arief Rachman, M. Sigit Budi S, JJ Adibrata, Gunawan Wibisono, dan RM Herwibowo Jakarta pada tahun 2006. Fokus serrum terletak pada pengkajian masalah-masalah sosial melalui medium seni rupa.

Program Serrum meliputi proyek dan Pameran Seni Rupa, Propaganda Grafis, Residensi, Workshop dan penerbitan komik. Kegiatan yang dilakukan selain berkesenian adalah  melakukan lokakarya ke sekolah-sekolah dan membuka kelas menggambar untuk anak-anak. Dalam program sosial Serrum bekerja sama dengan Rumah Bambu dalam membantu anak jalanan dan yatim piatu dengan membuatkan perpustakaan, menyumbang buku, serta mengadakan berbagai pelatihan- dari bahasa inggris sampai P3K, menggambar, sampai jalan-jalan bersama ke Kebun Binatang Ragunan.

Serrum mempunyai kecenderungan karya seperti mural, lukis, komik, fotografi, poster, patung, video, grafis, airbrush, desain, dan istalasi.

 

Jumat, 19 Desember 2014

Jl. Tirta sari Utan Kayu Selatan (Ketua Kerukunan Warga Komplek Asrama AD)

19.30

Kondisi acara pemutaran Gerobak Bioskop sesi pertama secara hasil sangat maksimal dan sukses. Pemutaran sempat terhenti karena hujan, namun karena antusiasme warga yang masih tidak beranjak, kami dengan senang hati menunggu hujan reda dan kemudian melanjutkan pemutaran hingga selesai. Respon warga sangat puas.

 

Sabtu, 20 Desember 2014

Jl.Harapan Mulya RT 05/12 Lubang Buaya Cipayung Jakarta Timur

19.30

Untuk kali kedua pemutaran gerobak bioskop, karena menunggu hujan maka pukul 20.30 tarian baru dimulai, lalu dilanjutkan dengan sambutan ketua RW, sebelumnya kami meminta warga untuk memilih film yang kita miliki, maka terpilihlah 4 film atas permintaan warga.

 

Senin, 22 Desember 2014

Jl.Harapan Mulya RT 05/12 Lubang Buaya Cipayung Jakarta Timur

19.30

Pemutaran film gerobak Bioskop di Lubang buaya menggantikan lokasi Kemuning Utan Kayu. Sesampainya di lokasi, hujan tidak turun seperti hari-hari sebelumnya, hanya gerimis sedikit saja. Penari dan pemain musiknya pun sudah bersiap-siap, panggung dan booth sudah terpasang. Penonton yang datang sekitar 30an, kami memutarkan 2 film; Biang Kerok dan Ateng Iskak. Para penonton terlihat senang, malah ada warga yang meminta untuk diputarkan ke RW sebelah. Pemutaran selesai pada pukul 23.00.

 

Selasa, 23 Desember 2014

Rumah RW Jl.Perintis Kemerderkaan Pedongkelan RT 003/003 Kayu Putih

Jakarta Timur

20.00

Pukul 19.00 persiapan yang kami lakukan sudah selesai, namun tetangga terdekat ketua RT . sedang berduka, baru senin malam anaknya meninggal dunia, dan mereka sedang mengadakan tahlilan. Sekitar pukul 21.00 kami baru bisa memulai acara yang dibuka dengan nyanyian gambang keromong sebanyak 2 lagu. Pemutaran film selesai pukul 23.00, walau warga nampaknya masih enggan beranjak.

Jika dibandingkan dengan tempat lain, disini warga lebih antusias dan sangat haus hiburan. Dagangan dan booth merchandise tidak digelar malam itu, karena saran orang setempat mengenai keamanan dan terlalu banyak anak-anak jahil sekitar daerah tersebut.

Karena saking ramainya dan warga antusias berbondong-bondong datang, layar kami sempat hampir roboh. Faktor pendukung kali ini adalah cuaca cerah.

 

Rabu, 24 Desember 2014

Lapangan Pembakaran Arang Jl. Layur Rawamangun, Jakarta Timur

19.30

Untuk pemutaran film Gerobak Bioskop layar tancap di hari kelima berjalan cukup aman, normal, kondusif dan lancar tidak ada halangan apapun. Penontonnya lebih banyak dibanding lokasi sebelumnya, ada sekitar 50an orang. Kami memutar 2 film, namun ketika film kedua ternyata ada masalah teknis pada playernya, laptop dalam kondisi baik, barangkali hanya masalah softwerenya.

Kami mendapatkan respon dari warga yang meminta datang lagi di lain waktu untuk kembali mengadakan acara nonton bareng.

 

Jumat, 26 Desember 2014

Rawa Sari RT 01/07 Kel. Cempaka Putih, Jakarta Pusat

19.30

Di hari terakhir kami memutar di Jalan Percetakan Negara, areanya berbentuk gang memanjang, sebelah kanan berisi deretan rumah dan sebelah kiri deretan tembok bermural “thejak”.

Hujan terus mengguyur hingga pukul 21.30, terpaksa 9 penyanyi dan pemusik tradisionalnya harus mulai meskipun masih hujan dan penonton masih sedikit. Musik dimainkan sebentar saja, setelahnya hujan mulai reda, film dimulai dan penonton mulai berdatangan. Pukul 23.00 film selesai dan kami pun beres-beres.

Setelah selesai pemutaran film pertama, kami sempat menanyai warga untuk menambah durasi pemutaran, sebagian masih ada yang ingin dilanjutkan namun, sebagian lagi, kebanyakan para orang tua ingin menyudahi karena sudah malam dan agar anak-anak segera pulang dan istirahat.