Komunitas Budaya Paseban

 

Komunitas Budaya Paseban berdiri sejak 2000 di bawah pimpinan Gallis Agus Sunardi. Gallis adalah seorang seniman topeng yang telah berpameran antara lain di British Council, Jakarta (2002) dan Festival Topeng Nusantara (2010). Komunitas Budaya Paseban berdomisili di Jakarta Pusat dan dibangun sebagai ruang edukasi bagi komunitas yang berbasis kesenian dengan mengembangkan metode pendidikan alternatif yang informal. Selain itu komunitas ini juga mengorganisasi berbagai kegiatan seni dan kebudayaan untuk menumbuhkembangkan kesadaran untuk bekerja sama antar-individu, antara lain pertunjukan tari, pameran seni rupa, pemutaran film dan berbagai pelatihan seni. Gallis dan Irawita adalah pendiri Koalisi Seni Indonesia.

 

Sabtu, 20 Desember 2014

Lapangan Bulu Tangkis.

Jalan Paseban Dalam RT 05-02 / 07, Kel. Paseban, Kec. Senen, Jakarta Pusat

19.00

Pengerjaan Pembuatan Gerobak Film di mulai pada hari Kamis, tanggal 18 Desember 2014, mengingat waktu yang tidak mungkin lagi. Detik terakhir pada hari H Gerobak Bioskop, akhirnya kami nyatakan layak dan bisa digunakan walaupun belum sempurna.

Jam 18.00 Perlengakapan panggung dan tenda mulai didirikan walau dalam kondisi hujan kecil. Kurang lebih pukul 20.30 acara dimulai dengan dibuka MC disusul tari-tarian, serta memperkenalkan Pengembangan Seni Pemutaran Film di Luar Ruang kepada para penonton. Film yang dipuatar malam itu adalah ‘Benyamin Tukang Ngibul’.

Penonton malam itu kebanyakan warga sekitar Lapangan, mayoritas ibu-ibu dan anak-anak. Walaupun kondisi cuaca yang kurang ramah, acara tetap berjalan dan tepat pukul 22.30 pemutaran selesai.

 

 

 

Minggu, 21 Desember 2014

Lapangan Perintis, Jalan Kramat Sawah IV, RT 04 / 02, Kel. Paseban, Kec. Senen, Jakarta Pusat

19.00

Pukul 17.00 kami memulai persiapan yang diawali dengan pemasangan tenda, panggung dan layar. Pukul 20.00 acara di buka oleh MC dengan memberikan pengantar mengenai acara pemutaran film, dilanjutkan dengan sepatah kata oleh ketua RW 02, Bapak Marjohan untuk memberikan pandangannya mengenai acara fpemutaran film dan memberikan kesannya mengenai program ini. Film ‘Benyamin Sueb’ langsung diputar setelahnya.

Pukul 22.30 pemutaran selesai, beberapa menit sebelum hujan deras mengguyur.

 

Kamis, 25 Desember 2014

Lapangan Bulu Tangkis, Jalan Kramat Sentiong Kel. Galur, Kec. Johar Baru, Jakarta Pusat

19.00

Hujan sudah datang semenjak sore ketika kami sedang membangun tenda dan frame untuk layar pemutaran. Pengunjung malam itu kebanyakan anak-anak, kemudian pelan-pelan para orang tua dan ibu-ibu berdatangan. Rebus-rebusan serta kopi dan teh yang kami sediakan tandas. Sinden Gambang Kromong yang melantunkan tembangnya, lama kelamaan diikuti oleh penonton yang sebagian besar anak-anak. Dengan semangat, mereka beramai-ramai membuat koor Gambang Kromong Margasari yang di pimpin Udin dengan Sindennya sebagai ujung tombak.

Kemudian film berjalan dengan memutarkan ‘Warkop Donkrak Antik’. Film berjalan mulus walaupun di akhir, sempat terputus. Sebelum acara keseluruhan berjalan, untuk memanggil penonton kami memutar film konser musik alternatif dengan menggunakan barang bekas. Cukup mengena.

Di sela-sela itu, kuesioner mulai berjalan, dengan antusias penonton mengisinya. Pukul 23.00 setelah film selesai, kami membereskan dan membersihkan tempat pemutaran.

 

Jumat, 26 Desember 2014

Pelataran Kantor Kelurahan Kampung Rawa, Kampung Rawa Selatan III, Kel. Kampung Rawa, Kec. Senen, Jakarta Pusat

19.00

Hujan turun dengan derasnya, namun lama kelaman mengecil. Gerimis terus berlangsung sampai tengah pemutaran film, baru setelahnya hujan benar-benar reda dan hilang.

Pukul 16.00 kami sudah sampai di halaman kelurahan Kampung Rawa dan langsung mendirikan perlengkapan panggung. Karena beresiko pada fasilitas pemutaran film kami dengan hati-hati mempersiapkan peralatannya. Dalam keadaan gerimis kami mempersiapan semua kebutuhan pemutaran film sampai dengan pukul 19.00.

Hujan masih gerimis. Di lokasi hanya terlihat panitia dan pengisi acara. Malam ini Kepala Lurah Kampung Rawa yang tadinya ingin ikut membuka acara berhalangan hadir karena ada rapat di Kecamatan.

Kami sangat berterima kasih untuk keberlanjutan program pemutaran film dengan fasilitas tersebut, karena warga sangat terhibur. Pukul 20.15 menit acara dimulai oleh MC yang memperkenalkan program acara Pengembangan Seni Pemutaran Film di Luar Ruang. Kemudian disusul oleh Sinden dan Gambang Kromong yang melantunkan lagu. Penonton anak-anak mulai duduk-duduk di teras Kantor Lurah Kampung Rawa.

Penampilan Gambang Kromong yang tadinya akan di tampilkan di panggung, terpaksa dipindahkan ke teras Kantor Kelurahan karena kondisi panggung basah dan gerimis masih berjalan. Selepas Gambang Kromong acara berlanjut ke pemutaran film Benyamin Tukang Ngibul. Pelan-pelan remaja dan orangtua berdatangan mengambil tempat duduk di jok berwarna putih yang telah disediakan panitia.

Acara selesai kurang lebih pukul 22.30, kemudian panitia segera berkemas dan dilanjutkan dengan silaturahmi dan ramah tamah dengan komunitas Teater Indonesia yang berada di wilayah tersebut, bersama Ketua RT dan Karang Taruna Kelurahan Kampung Rawa.

 

Sabtu, 27 Desember 2014

Lapangan Bermain Warga RT 01-02 / 05, Kel. Cempaka Putih Barat, Kec. Cempaka Putih,

Jakarta Pusat

19.00

Kurang lebih pukul 16.40 hujan gerimis reda, walaupun sesekali masih terasa. Setelah selesai memasang kebutuhan panggung, kami mulai menyiapkan layar. Keterlibatan warga setempat sangat membantu upaya kami dalam membuka kesadaran akan pentingnya partisipasi warga dalam mengelola sebuah acara/program.

Misalkan, kami dibantu mengelola penyediaan konsumsi untuk penonoton dan panitia acara. Dalam mengelola keuangan untuk konsumsi, kami juga melibatkan komunitas atau Ibu-ibu PKK setempat dalam pengadaan dan pengaturannya. Harapannya ke depannya mudah-mudahan warga mampu merancang program acara yang sesuai dengan kebutuhan bersama.

Setelah selesai menyiapkan keperluan panggung dan pemutaran, kami meniriskan genangan air di setiap lekukan lantai lapangan bermain warga.

Acara dibuka dengan menampilkan tarian dari Papua yang lengkap dengan kostumnya. Dengan gerakan yang dinamis dan musik yang bertalu-talu, penonton yang tadinya kebanyakan anak-anak, mulai didatangi oleh remaja, dan orang yang memenuhi area lapangan dimana acara berlangsung.

Lapangan bermain warga dengan beton bentuk melingkar tiba-tiba sudah dipenuhi penonton.  Ketua RW beserta ajarannya serta perwakilan dari LKM menduduki kursi yang disediakan. Musik dan Tarian Papua secara serempak berhenti tanda berakhirnya suguhan tari. Sebelum Pemutaran Film, Ketua RW 05 selaku pemangku memberikan kata sambutan dan wejangan guna menambah semangat akan keberlangsungan dan pengembangan hajatan ini kedepan agar lebih mengena dan tepat guna.

Kurang lebih pukul 23.00 acara selesai, kami langsung membereskan peralatan pemutaran yang langsung kami titipkan ke kantor RW. 05 untuk untuk acara pemutaran esok malamnya.

 

Minggu, 28 Desember 2014

Rumah Susun Rawa Jati Sari, Jalan Jati Rawa Sari, Lapangan Bulu Tangkis RW 05

Kel. Cempaka Putih Barat, Kec. Cempaka Putih, Jakarta Pusat

19.00

Kurang lebih pukul 16.30 kami tiba di lapangan Bulu Tangkis Rumah Susun Rawa Jati Sari. Setelah keperluan panggung disiapkan, kami langsung mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan keperluan pemutaran film. Sebelum Maghrib menjelang, kami telah selesai. Kemudian kami istirahat, makan dan sholat.

Sambil menunggu Ketua RW 05 dan Staf, untuk memanggil penonton datang lebih lagi, kami mengadakan konser musik barang bekas. Di sela-sela itu anak-anak yang sejak dari awal kami menyiapkan peralatan sudah menuggu dan menyaksikan kegiatan kami, bernyanyi bersama dengan menggunakan abjad dan berhitung secara bersama.

Panitia yang lain membagikan kertas kuesioner kepada penonton yang datang. Suasana keramaian di Lapangan Bulu Tangkis Rumah Susun RW 05 begitu menggairahkan dan hangat. Sambutan dan antusias warga begitu besar akan peristiwa ini. Anak-anak, tua muda, laki-laki dan perempuan berdatangan menyaksikan peristiwa yang nyaris tidak pernah di rasakan warga. Sajian rebusan dan minuman ringan tersedia. Anak-anak berserabutan mencoba antri walaupun kadang-kadang sedikit berserabutan ingin duluan.

Lapangan Bulu Tangkis Rumah Susun RW 05 dengan warna dominan hijau daun adalah lokasi terbaik dan terbagus dari 6 lokasi Pemutaran di 3 kecamatan, Jakarta Pusat. Hanya di Kantor Lurah Kampung Rawa, kami tidak menggunakan lapangan Bulu Tangkis. Sempat Bapak Lurah yang kami temui sebelumnya merekomendasi lapangan Bulu Tangkis yang berada di tengah perkampungan warga di perkampungan padat, tapi kemudian dengan cepat di anulir ucapannya karena alasan keamanan.

Sebelumnya, memang pilihan lokasi kami pastikan di halaman Kantor Lurah Kampung Rawa dengan alasan di lokasi tersebut komunitas teater berkegiatan, mudah di akses dan halaman depan Kantor Lurah kampung Rawa cukup besar dengan flor resapan air. Genangan air sewaktu hujan tidak akan lama bertahan dan yang paling penting keterlibatan komunitas atau warga setempat.

Selebihnya, Lapangan Bulu Tangkis yang kami coba jajaki dengan kondisi yang sama. Plesteran cor-corannya terkelupas di sana-sini. Bila hujan turun, genangan air menjadikan pemandangan yang tak sedap dan menjadi masalah dalam berkegiatan. Ujung-ujungnya, anak-anak beramai-ramai bermain genangan air dan basah-basahan.

Bahkan di siang hari, Lapangan Bermain Warga atau Lapangan Bulu Tangkis jika berdekatan dengan komplek sekolah, maka sepeda motor peserta didik/siswa akan berdesakan untuk parkir. Selain berdampak polusi asap dan suara di tengah pemukiman juga akan merusak lantai. Lapangan menjadi gembur dan muncullah genangan kolam-kolam.

Malam terakhir acara Pengembangan Seni Pemutaran Film Di Luar Ruang dibuka oleh ketua RW. 05. Harapan yang disampaikan bahwa ke depan, mudah-mudahan acara seperti ini, menjadi model dengan melibatkan warga perkampungan dan komunitas seluas-luasnya.

Musik Melayu membuka alunannya dengan menggunakan instrument klasik dari berbagai belahan dunia. Dikemas dalam irama dan lagu melayu. Di tengah acara lagu dan musik melayu, anak-anak diajak untuk berpartisipasi memainkan bersama-sama instrument musik. Mula-mula, malu. Kemudian berserabutan naik ke atas panggung beton, begitu salah satu personel menawarkan hadiah. Ditutup dengan nyanyi bersama. Sebuah lagu siri kuning di gelontorkan. Penonton, terutama anak-anak bersemangat nyanyi bersama di iringi musik melayu.

Selanjutnya Pemutaran film dengan judul ‘Benyamin Raja Copet’.

Di akhir acara kami sempat mendiskusikan beberapa gagasan dalam merancang sebuah acara yang berkarakter dengan muatan kearifan lokal dengan mengusung pendidikan alternatif dalam  bentuk seni dan budaya. Menggali kembali serta mengangkat seni dan budaya lokal yang nyaris terlupakan dan, bahkan hilang di tiup angin.

Dengan suka cita dan keramahan kami berpamitan untuk kembali pulang.